Showing posts with label Gigs Report. Show all posts
Showing posts with label Gigs Report. Show all posts

21/03/2010
Some LA Lights events, oddsville or whatever, headlining: Camera Obscura!
Feat. Camera Obscura, The S.I.G.I.T, Shaggy Dog and some SPG chicks :p

"Super Great Concert! Please Come Again Shortly, and Play More Songs! We Love You!"

Camera Obsura

Blackbird Coffee Pancake Launching
Feat. Heavy Monster, Greats, Foxy Train, The Morning After
13/03/2010

"Pancake Enak, Kopi Nikmat, Ngobrol Asyik Dengan Tema Musikal Yang Paling Majemuk di Dunia: The Beatles"


Kali ini sebuah bidang usaha mainstream (baca: Cafe) bernafas musikal, -to be precisely: The Beatles- diluncurkan di Surabaya yang tetap panas di musim hujan. Joseph dari Vox dan Bambang dari The Morning After lah yang rupanya mendirikan cafe pancakes & kopi bertema The Beatles ini. Bersanding dengan distro lokal termaju dari Surabaya, Garlick. Tepatnya di Jl. Imam Bonjol 125 Surabaya, komplek ini mungkin akan menjadi pusat jujugan baru anak Surabaya setelah Sutos, a-hem. Peluncurannya kali ini, yang diselenggarakan pada 13 Maret 2010, menghadirkan Heavy Monster, Greats, Foxy Train dan The Morning After. Kok Vox malah nggak main? Let's see them on a bigger stage :p

Seperti biasa, acara efektif dimulai pada sekitar pukul 20.00 dimana pengunjung masih belum terlalu ramai juga. The Morning After membuka set akustik di dalam toko/cafe dengan sederhana, hanya bertiga, Bambang, Oni dan Sya'ban. Oh rupanya Bambang memang minta main pertama, karena doi harus masak pancake andalan cafe ini :p kemana si Joseph? dia jadi MC dadakan bung! hahaha... Seiring lantunan lagu dari The Morning After, kawan-kawan mulai berdatangan, suasana mulai riuh, percakapan menjadi semakin ramai, dan minuman mulai dipesan. Tak terasa ternyata sudah berganti penampil, ada Foxy Train, duta bluesy dari Surabaya. Tampil cukup menghibur rupanya, diindikasikan ruangan di dalam mulai ramai dan terlihat pengap. Haha..

Greats on mini acoustic set of Blackbird Coffee Pancake

Semakin malam, ada Greats yang tampil santai dan Karis yang berceloteh akan tempat beribadat di cafe Beatles ini. Membawakan pop/indiepop/folk santai namun tetap bertenaga, nampaknya Greats perlahan mulai mengumpulkan penggemarnya sendiri. Greats sempat membawakan lagu Beatles yang menurut mereka paling puitis, Across The Universe. Heavy Monster nampaknya menjadi hidangan utama yang sudah ditunggu-tunggu oleh sebagian anak muda yang memenuhi toko/cafe hingga pengap itu. Herman kali ini membawa alat musik tiupnya sendiri (sax/trumpet?) dan Andai pun mengalun dengan indahnya. Paperboy masih menjadi favorit saya dari sekian lama Heavy Monster berpanggung. Sayang ditengah setlist Heavy Monster, acara harus dihentikan, karena melebihi jam malam yang ditoleransi warga. Fyi, lokasi Blackbird/Garlick memang di daerah pemukiman cukup elite, wajar jika warga merasa terganggu.

Satu lagi alternatif di Surabaya untuk makan pancake enak, kopi nikmat, ngobrol asyik dengan tema musikal yang paling majemuk di dunia: The Beatles. Selamat untuk Blackbird, semoga selalu menjadi tempat rekreasi musikal dan kuliner yang menarik di Surabaya. Cheers. (Jay)

.

*review done by Tinta

"Saya Memang Terberkati, Bisa Menikmati breakcore_LABS di Dua Kota Dalam Waktu yang Berdekatan!"

Individual Distortion

breakcore_LABS # 7.0.1 (kek2kek)
Minggu, 28 Februari 2010
Amphiteather Terbuka Taman Budaya Yogyakarta
*foto breakcore_LABS 0.7.1 oleh Ade Greden

Sekitar jam 8 malam, breakcore_LABS dibuka oleh duo MC Ican Harem dan Hamam. SodaDosa diberi kesempatan pertama untuk memecah kemendungan langit Yogya malam itu. Krisna, otak dan eksekutor dari SodaDosa berhasil mengarahkan audience untuk menikmati terror audio dan visual karena proyektor juga mulai menampilkan visual dari VJ Manticore bergantian dengan VJ Bash. Teror dilanjutkan oleh To Die, grindcore band yang kali ini tampil tidak dengan format band, hanya gitar dan vokal dan berkolaborasi dengan Adith (Individual Distortion).

SodaDosa

Mindfuckingboy, artist tamu asal Singapura menghadirkan electronic noise dilanjutkan dengan Kirdec, artist tamu lainnya asal Belgia dengan memakai rok panjang hitam dengan mengusung industrial sound. Individual Distortion menarik perhatian dengan judul-judul lagu yang norak seperti “Kapan gue lulus”, dan “Asmara&Tai=Ngambang”. Trio metal karaoke, Cangkang Serigala melanjutkan keceriaan malam itu, siapa yang tidak terhibur melihat pertunjukkan mereka! Sayang jam 22.30 saya harus meninggalkan acara untuk kembali ke Surabaya karena kereta Gayabaru Malam akan segera datang di Stasiun Lempuyangan! Pertunjukkan hebat di tempat yang hebat!

-----------------------------------------------------------------------------------------click readmore for full stories

TerbujurKaku

breakcore_LABS # 7.0.2 bugfix (cok2cok)
Selasa, 2 Maret 2010
Lobby Gedung Despro Institut Teknologi Sepuluh November (ITS)
*foto breakcore_LABS 0.7.2 oleh Denan Bagus

Saya datang terlambat jam 9 malam, melewatkan penampilan Robot, postrock band yang cukup menarik perhatian local scene. Saat tiba di venue, Wikked Joi Suzann--proyek terbaru dari Wiky, Jowy, dan Inyonk—berkolaborasi dengan Yogie Digital sedang duduk asik dengan instrument dan efek masing-masing! Mereka berempat berhasil menyebarkan gemuruh ke seluruh penjuru ITS didukung sound system yang oke! Audience cukup ramai mengingat publik masih asing dengan breakcore_LABS dan ini pertama kalinya diadakan di Surabaya. Acara ini juga tambah meriah karena Garasi 337 memberikan stiker dan sablonase gratis! Kaos breakcore_LABS—artwork by Ican Harem—memenuhi selasar gedung.

VJ Bash & VJ Numberone's visual

Performer selanjutnya adalah DJ Sonixx, dengan dance electronic sound dengan sentuhan chiptune berhasil membuat crowd mulai ngibing, dipelopori oleh teman-teman HONF, Ira, Al, dan Putri! Kegembiraan makin ditingkatkan dengan penampilan dari TerbujurKaku yang membuka dengan noise session bersama VJ Herbal. TerbujurKaku meracuni otak audience dengan me-rearranged lagu-lagu pop dan dangdut yang popular dengan stick PS! Dua proyektor yang menampilkan visual dari VJ Bash dan VJ Numberone juga berhasil menjadi terror visual! Akhirnya pertunjukkan ditutup dengan bahagia oleh Julian Abraham, sang founder dari breakcore_LABS. (Tinta)

Untuk info lengkap mengenai program breakcore_LABS, silakan kunjungi www.breakcorelabs.wordpress.com

HIGH with FRIDAY

"You'll Fuckin Regret It Because You've Missed This Magnificent Planetic, Spacey, Atmospheric Show of Friday!"

the digital flyer that bring me to Planetarium, TIM, Jakarta

Antusiasme saya sewaktu menghadiri acara ini sebenarnya lebih pada ingin melihat Friday berpanggung lagi setelah sekian lama. Sudah lama tidak ada kabar dari Friday, dan tiba-tiba ada digital flyer ini menyebar di Facebook. Kebetulan memang lagi liburan ke Jakarta, meluncurlah saya ke Planetarium untuk nonton Friday.

Saya datang telat dari jadwal yang seharusnya pukul 19:00 WIB, saya datang sudah lebih dari pukul 20:00 WIB. Untungnya orang di bagian ticketing bilang “baru mulai kok” ha! Walaupun sepertinya saya melewatkan monolog yang ada diawal dari Komisi Penanggulangan AIDS / KPA (yap, acara ini terselenggara berkat KPA juga, dimana Fiday menjadi salah satu wakil KPA juga sekarang). Saya belum pernah ke Planetarium, dan tidak ada gambaran seperti apa sih Planetarium yang akan digunakan gedung konser malam itu. Seketika ketika kain tirai hitam disibakkan, saya terkesima oleh Planetariumnya! Seakan masuk kedunia lain dengan hamparan langit malam yang luas, gugusan bintang, planet dan benda langit lainnya begitu dekat diatas kepala! Ruangan tertutup itu terasa seperti hamparan ruangan terbuka luas di malam hari yang penuh bintang berkilau beserta tebaran planet-planetnya! Sesaat kemudian antusiasme saya menjadi berlipat-lipat membayangkan Friday akan berpanggung di tempat sehebat ini!

againts high

Planetarium itu gelap, segelap gedung bioskop film horror. Dengan pendingin ruangan yang memadai, dan tempat duduk yang nyaman dan empuk. Bahkan di depan tempat Friday berpanggung juga tidak dihiasi penerangan. Sekedar agar Friday terlihat jelas. Penerangan hanya dari permainan visual kubah Planetarium dan menghasilkan tampilan siluet dari player-player Friday. Drum set Pit diatur menghadap serong kesamping, sehingga siluet Pit menggebuk drum terlihat dari samping, kemudian ada Komar di bas dengan gerakan-gerakan psychedelicnya, Bram pada vokal tetap dengan gaya cool-nya dan Guntur pada gitar masih dengan tekun menyayat gitarnya. Ditambah permainan Keyboard dari Mbenk yang atraktif di latar belakang. Sapuan proyektor ke kubah Planetarium menampilkan langit malam dengan butiran bintang-bintang, planet, benda langit, rasi bintang dan sesekali berganti setting menjadi langit sore yang memerah atau langit subuh yang membiru……

Dibuka dengan alunan intro yang langsung disusul dengan The Pocket Knife, hentakan iramanya langsung merangsang semangat, yeah sudah lama gak nonton Friday! Haha… Masih seperti biasanya, Friday berturut-turut membawakan lagu demi lagunya (Elses, Sitting on Anything Cold, Nobody Takes As Much As Interest In Their...) tanpa banyak basa-basi terucap dari Bram sang frontliner. What so importance then? Cukup menyenderkan kepala ke sandaran kursi yang nyaman, nikmati music live- Friday dengan ambience khas yang mereka bangun dan atmosfer planetarium yang atmosferik, langit luas angkasa, planet dan gugusan bintang.

Ruangan kubah planetarium memang bukan akustik yang sempurna, sound yang keluar dari panggung juga bukan yang paling prima. Namun hal ini tidak menjadi catatan cacat dari konser ini. Ketika lagu Turn dimainkan, Friday tetap membawa kembali nuansa EP Mind To Get Close beberapa tahun silam (Around 2003? CMIIW). Lalu ada single terbaru mereka Ku Bukan Aku yang mereka tulis lirik absurd-nya dalam Bahasa Indonesia –obsesi yang akhirnya terwujud, diakui oleh Friday dalam sesi interview singkat- sedikit berbeda disini, lebih dramatis dengan dominasi synth/keyboard di layer belakang, juga lebih terasa part-part dan sound alternative 90an, utamanya dibagian melodi diakhir lagu.

choir
photo source: wastedrockers

Puncaknya ada di Sinery. Lagu penutup dan ditutup oleh paduan suara dari SLTP Katolik Le Muel, Jakarta. Sukses membuat merinding bulu kuduk saya, mendengar suara anak-anak SMP ini berpadu ditengah gelapnya Planetarium dan melankolinya melodi lagu Sinery. Oh jangan lupa ada tamu yang ikut naik ke panggung, Tania dari Clover untuk turut bermain Keyboard. Show it’s over, players gather round in the center of the stage, applause, players giving their last honor to the audiences and this is the end of the magnificent planetic, spacey, atmospheric show of Friday! Salute! (Jay)

Songlist on show
01. intro
02. the pocket knife
03. elses
04. sitting on anything cold
05. nobody takes as much as interest in their...
06. turn
07. starts to over
08. ku bukan aku
09. sinery

Review by: Jay
Photo by: Several sources (Facebook, wastedrockers, etc)



-click readmore for full stories-

"Andri Menggesekkan Gergaji Pada Senar Gitarnya, What A Noise!"

Andri Manual; in Diana

Title: Sundaytronik
Place: The Wave, Kuta, Bali
Date : 31 Agustus 2008
Entry: 25k include beer
Report by: Tinta the Gig Travelers

Ini gig journey pertama saya ke Bali dan merupakan perjalanan yang paling gila yang pernah saya alami, tepat seperti yang dibilang dua teman kalau saya itu musafir gig dan itu merupakan the great escape! Heran juga anak-anak Kuta bikin indiepop gig, you know Kuta Rock City (Jerinx cs)! gig ini diorganisir Futurica Inc sekaligus promo album terbarunya Oh Nina! EPPI SPACE CREATURE: ZAAPP...!!! yang juga menampilkan band-band dari YK (ARMADA RACUN, DAS MUSTANG, AMNESIAC SYNDROME), Solo (CARMENT), SBY (MANUAL), BALI (GODARD, NINE FOLDS, THREESIXONE ft SUTHA, MOBSCENE) dengan HTM 25k include beer!

Karena sesuatu yang parah terjadi pada saya, saya baru tiba di venue, The Wave, 23.00 wita dan melewatkan banyak band! The Wave berada tepat di depan Pantai Kuta, yeah cozy club in the beautiful spot! Tuhan memberkati saya, Manual belum main dan saya tidak melewatkan bagian-bagian terbaik di gig tersebut! Saat masuk club, saya disambut 2 track terakhir dari Godard, duo 8bit, and they are true chip tuner, mereka memakai game console! What a joy sound! Saya tahu Godard karena mereka ada dalam kompilasi lirisan Shining Records, Chiptown 16:2 bit 14 in 1 compilation! Next performer, Armada Racun. Salah satu band gila yang meracuni rock! Mereka sudah terikat dengan LIL'FISH Records dan akan meliris album perdana mereka di tahun 2009. Armada Racun berformasikan 2 basses, 1 keyboardist, 1 drummer (tanpa gitar sama seperti Zoo), saya melihat Nadya yang juga keyboardist Risky Summerbee and The Honeythief, dan drummer Southern Beach Terror as add player. Vred (bass & vocal) yang saat itu memakai kaos berprint Basquiat, dengan maut membawakan 3 lagu yang seperti anthem.. Saya hanya mengingat lagu berjudul Amerika. Sebuah ironi mengenai kapitalisme dan anak-anak YK pun ber-sing along!

Selanjutnya adalah band yang membuat saya semangat menyeberangi Selat Bali sampai 3 kali, Manual, a noise band yang membuat crowd terdiam dan terpana! Mereka hanya berdua malam itu, tanpa Alibaba. Jeffry pada kata-kata, puisi, mainan anak-anak, mesin tik, radio, serpihan seng, batu-batu kecil, botol berisikan kelereng dan Andri pada guitar & voices! Mereka mempersembahkan 3 komposisi, 2 materi baru dan 1 materi lama yang MP3 nya sudah menyebar. Untuk yang pertama, Your Is Mine, sound masih kurang mantap, jadi noise dari gesekan seng dan batu kurang dapet! Tapi saya tetap terheran dengan materi dan (non) instrument baru mereka. Komposisi kedua, juga materi baru. Keakuan, Jeffri membacakan puisi yang terinspirasi dari tema Masturbasi Ego buah karya sang teman tercintanya! Komposisi terakhir sudah sering saya nikmati..Tanda Seru. Penutup yang manis, terutama saat Andri menggesekkan gergaji pada senar gitarnya, what a noise!

Pamungkas adalah Oh, Nina! Khrisna (gitar&synth) Auf (voc & synth) mengalami 2 kali gangguan sound di awal penampilan, dan itu sedikit menyebalkan. Selain membawakan track di album EPPI Space Creature:ZAPP...!!! mereka mengcover lagu kebangsaan, Tanah Air Ku (sebenernya saya nggak tau judul pastinya) dan Bitter Sweet Simphony dari The Verve! Oh, Nina! menutup gig dengan kedamaian harmoninya, dan rombongan YK yang menggunakan 1 bus isi 25 kursi, bersiap pulang dan beristirahat sejenak di rumah makan fastfood Amerika kebanggaan Indonesia. Seperti kata Armada Racun, kita berbangsa satu bangsa Amerika!

Terbacalah bahwa klimaks gig ada di Manual dan Sundaytronik adalah gig pertama Manual setelah 1 tahun lebih mereka vakum!
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Armada Racun; in Diana

This is my first gig journey to Bali, and the craziest journey I ever had. My friend was right told me that I’m a gig-goers and that is a great escape! I quite wondering, Kuta kids bring up an indiepop gigs, you know the words, Kuta Rock City (Jerinx –the drummer of Superman Is Dead an influencing punk band in Bali- and friends)! This gig organized by Futurica Inc also for promoting newest Oh Nina! album, EPPI SPACE CREATURE: ZAAPP...!!! And also performing another bands from YK (ARMADA RACUN, DAS MUSTANG, AMNESIAC SYNDROME), Solo (CARMENT), SBY (MANUAL), BALI (GODARD, NINE FOLDS, THREESIXONE ft SUTHA, MOBSCENE) with entry ticketing at 25k include beer!

Because something terrible happen to me, I came to the venue, The Wave, at 23.00 and had passed many bands! The Wave placed right in front of Kuta Beach, yeah cozy club in the beautiful spot! God blessed me, Manual had not played yet, and I’m not passing the best part of the gig! When I stepped inside, I got two tracks form Godard, a 8-bit duo, and they are a true chip-tuner, they use a game console! What a joy sound! I knew Godard, because they were appeared in a compilation released by Shining Records, Chiptown 16:2 bit 14 in 1 compilation! Next performer is Armada Racun. One crazy band that poisoned rock music! They are in a contract with Lil’Fish Records and shall release their first album at 2009. Armada Racun lined up with 2 basses, 1 keyboard, 1 drum (without guitar, just like Zoo), I saw Nadya who is also keyboardist of Risky Summerbee and The Honeythief and the Southern Beach Terror drummer as additional player. Vred (bass and voc) who wear a shirt printed Basquiat, deathly bring three songs. I only could remember the one titled Amerika.. An irony about capitalism and the YK kids did sing-a-long!

The next is the band that made me bold to cross Bali strait three times in a night. Manual, the noise band, that could made the audience in silence and stunned! They only appear two-headed that night, without Alibaba. Jeffry in words, poetry, kids toy, typewriter, radio, pieces of zinc, gravels, bottle filled with marbles and Andri on guitar and voices! They showed three composition, two new songs, and one old song that the MP3 files already distributed. The first is, Your Is Mine, I think the sound still not kicking yet, so, noises from scratched zinc and gravels not really in-tune. But I still amazed with their new materials and (non) instruments. The second, is also a new one, Keakuan, Jeffry read a poetry inspired by his friend artwork titled Masturbasi Ego! The last, Tanda Seru, is a composition that is quite friendly for me. A sweet closing. Mostly when Andri scratch his guitar with a saw. What a noise!

The last performer was Oh Nina! Khrisna (gitar&synth) and Auf (voc&synth) experienced some problem in their sound, twice in their starting. And it is quite annoying. Beside brought songs from their newest album, they also covered a national anthem, Tanah Airku (I’m not really sure about the title) and Bitter Sweet Symphony from The Verve! Oh Nina! ends the show with its peaceful harmony. And the a peer group from YK that brought a bus with 25 seats, get ready to get home, and take a bit rest in an American fast food restaurant, Indonesian pride! Like Armada Racun said, we are one nation, American!

We could see, the climax is on Manual, and Sundaytronik is their first gig after a year in vacuum. 


*Tinta, the Gig Traveler :D often catch local gigs, even outside her town she lived in. So, say thanks to Tinta! :D
*Review by: Tinta the Gig Traveler
*Translate by: Jay
*Photo by: Tinta the Gig Traveler with her Diana
*See Tinta on her Multiply here!

Robert Davis Chaniago


Date: 26 September 2008
Place: Lollypop Shop
Entry: Free as hell and heaven
Bands: Robert Davis Chaniago, The Morning After, Vox, Let's Go C'mon Baby, Hi Mom!, Soulmate
Good: Charity is good, nice and comfortable crowd and performers, Heri Heru by Let's Go C'mon Baby, Free ta'jil
Bad: Not enough drink at the first time. But, boxes of packed water come then!

Ini adalah sebuah charity show, dengan line-up yang super, walaupun eksekusi yang sederhana! Bulan Ramadhan, Acoustic Show, Charity Box, Line up: The Morning After, Robert Davis Chaniago, Let’s Go C’mon Baby, Vox, Hi Mom! dan Soulmate! Terdengar menarik? Yah, Lollypop Shop yang ketiban peran jadi venue, memang lumayan penuh waktu sore itu! Dan Mellon Zine menggelar laptop terkoneksi internet untuk membuka page www.mellonzine.com langsung di venue! Haha…

Robert Davis Chaniago menjadi pembuka acara hari itu, dan musik blues di sore hari memang memiliki pesonanya sendiri. Ha, memang kandidat yang pantas diunggulkan untuk masuk kompilasi LA Lights Indiefest mendatang. Up Up And Away yang menjadi lagu penutup RDC adalah lagu yang dikonteskan di LA Lights Indiefest. Penampil kedua ada The Morning After dari Malang, yang telah merilis album debutnya, dibawah Lil’ Fish Records. Tidak dengan formasi lengkap, namun masih memukau dengan Dengar dan Diam-nya. Toh, format pertunjukkan juga akustik. Setelah TMA ada Vox, yang tampil dengan baju muslim panjang, membawakan Demi Masa yang bertema religi, dan membawakan Oh Well versi akustik yang menyenangkan.


Penampil selanjutnya adalah Let’s Go C’mon Baby, dengan tambahan dua player (Hadi The Boogie, satu lagi saya lupa, tolong tambahkan di komen jika ada yang tahu). Membawakan Dolly Menjelang Shubuh di nuansa Ramadhan ini, dan Heri Heru yang menjadi sangat asyik dengan beat bergoyang gaya akustik-nya. Kemudian ada Hi Mom!, walaupun yang tampil hanyalah Kupre dan Koko, padahal saya melihat Mery ada di lokasi juga sebenarnya. Toh, Honey masih mengasyikkan dan membuat penonton ikut bernyanyi!
Break Maghrib yang diawali BCR (Balada Cerita Ramadhan –kalo gak salah) dari Prambors menjadi kesempatan beberapa audiens untuk berburu merchandise band dan beramal di kotak amal. Setelah pembagian takjil gratis dan berbuka sejenak, Soulmate tampil dengan kostum flight attendant-nya. Remang petang menjadi suasana yang menyatu dengan penampilan Soulmate yang electro-jazzy. Acara yang sungguh menyenangkan! Pada sore itu terkumpul uang satu juta rupiah lebih yang disumbangkan seluruhnya pada Sanggar Alang-Alang Surabaya. Terimakasih untuk LA Lights, Prambors FM Surabaya, 123Vox Production, Lollypop Shop, Mellon Zine and SPL Sound yang membuat acara ini terselenggara. So, selamat berlebaran semua! Mohon  maaf lahir batin! We love you!


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

The Morning After

This is a Charity Show with its super-line up, although with a simple execution! Ramadhan, Acoustic Show, Charity Box, Line up: The Morning After, Robert Davis Chaniago, Let’s Go C’mon Baby, Vox, Hi Mom! dan Soulmate! Sounds interesting? Yup, Lollypop Shop that due to be the venue, quite filled up that afternoon. And Mellon Zine show a laptop connected with the internet, to open the page, www.mellonzine.com live at the venue! Haha

Robert Davis Chaniago is the opening act, and blues at the afternoon has its own excitement. Ha, they are deserved to win through LA Lights Indiefest next compilation. Up Up And Away that closed RDC act, is the song that contested in LA Lights Indiefest. Next, is The Morning After from Malang, who just released their debut album under Lil’ Fish Records. Didn’t come with their full formation, but still stand out with their Dengar dan Diam. Though, the show is an acoustic show. After TMA there is Vox, appear with long Moslem costume, played Demi Masa that is a religious song, and Oh Well, a nice acoustic version.


The next performer it’s Let’s Go C’mon Baby, with two additional players (Hadi The Boogie, I forgot the other one, please add on the comment if you know). Brought Dolly Menjelang Shubuh in this Ramadhan, and Heri Heru that really cool with its acoustic-danceable-beat. Then, came Hi Mom!, only Kupre and Koko who are on stage, instead I saw Mery around the venue. Though, Honey is still great, and made the audiences sing together.

Break for Maghrib, started with BCR (Balada Cerita Ramadhan –hope I’m not wrong with this) from Prambors Radio, been a good chance for the audiences to shop the bamd merchandises and fill in the charity box. After distributed snack and drink to break-fasting, there were come Soulmate with its flight attendant costume. Sunset light, have been a good match for Soulmate performance who is electro-jazzy. This is a really fun show! In that afternoon, we collect around one million rupiahs, and fully give it to Sanggar Alang-Alang Surabaya. Thanks to LA Lights, Prambors FM Surabaya, 123Vox Production, Lollypop Shop, Mellon Zine and SPL Sound, who made this show possible. So, happy Eid! We’re sorry for any our faults behind. We love you! 


Slim, what are you doing? Posting a fight-words? ;D

*Written and Translated by: Jay
*Photo by: Ipunk'd

 
Seringai barking at the audiences

Date: 15 Agustus 2008
Place: Lap. Basuki Rahmat Surabaya
Entry: IDR 10.000 (include a pack of cigarettes)
Finalist: Albert and The Product, Robert Davis Chaniago, Wai Rejected, Soulmate, Unda Undi and Pollypop
Bands: Burgerkill, Seringai, The Changcuters, Minerva, The Morning After, Cigarettes Nation
Good: Jam Revolution. Burgerkill and Seringai together with Minerva, neo-classic meet rock!
Bad: Two-sided stage!

Ini dia ajang show case bagi ke enam kontestan LA Lights Indiefest 2008 regional Surabaya untuk diseleksi menuju kompilasi tahunan LA Lights Indiefest. Pada edisi 2008 ini ada enam finalis, yaitu Albert and The Product, Robert Davis Chaniago, Wai Rejected, Soulmate, Unda Undi dan Pollypop. Ajang show case kali ini, dihadiri bintang tamu yaitu Burgerkill, Seringai, The Changcuters, Minerva, The Morning After dan Cigarettes Nation.

Sesampainya dilokasi, sesuai prediksi, memang ramailah ini acara, dengan hipotesis utama penyebab keramaian adalah kehadiran The Changcuters sebagai bintang tamu. yeah, lagu-lagunya yang merantak di RCTI setiap malam sebagai soundtrack sinetron membuat band ini begitu populer. Begitu masuk ke areal panggung, saya melihat tendensi “berinovasi” yang diupayakan penyelenggara, dengan mengunakan two-sided stage. Panggung yang memiliki dua sisi, depan dan belakang, sehingga penampil bisa langsung bergantian tanpa waktu menunggu. Sayangnya justru hal “inovatif” ini adalah yang paling mengganggu sepanjang acara, bagaimana tidak, kita harus berpindah sisi, setiap saat ingin melihat band berikutnya! Semoga konsep ini tidak akan dipakai lagi.

Oke, saya sempat menyaksikan Minerva, walaupun hanya sedikit. Empat cewek bersenjatakan biola (string section quartet) ini memainkan musik yang kurang lebih seperti Bond. Kemudian setelah itu, ditampilkan ke enam finalis regional Surabaya. penampilannya dibagi menjadi dua sesi yang berurutan. Sesi pertama ada Unda Undi, Pollypop dan Wai Rejected. Pada sesi ini jelas penampilan Wai Rejected asal Malang adalah yang paling stand out. Terasa sangat matang dalam aransemen lagu. Sesi kedua ada Albert and The Product, Soulmate dan Robert Davis Chaniago. Ketiganya tampil baik, namun banyak yang membicarakan Soulmate dengan electro-pop nya yang memang tidak banyak di kota ini. I don’t want to judge them, as I’m not the jury, but I predict, Wai Rejected and Soulmate would go through the compilation. Haha..

Bambang of The Morning After

Sampai pada penampilan bintang tamu, yang pertama tampil ada The Morning After. Band jebolan LA Lights Indiefest 2007 ini tampil dengan manisnya, dengan musik 90’s alternatif. Kemudian ada Cigarettes Nation, yang juga jebolan LA Lights Indiefest 2007. Tampil dengan menyanyikan salah satu soundtrack film Kill Bill pada lagu pertama, kemudian menghadirkan Lebonc (vokalis Apples in The Wonderland –band induk Cigarettes Nation) pada lagu terakhir, (The Curse of) the Downtown Dogz.

Setelah penampilan para alumnus, hadirlah serigala-serigala beringas berlabel Seringai yang siap membakar stage malam itu. Yeah, antusiasme anak muda di bibir panggung begitu bergairahnya, Akselerasi Maksimum yang menjadi lagu pertama langsung membuat moshpit, dan tubuh tubuh pun bertubrukkan kesana kemari. Seringai sukses memprovokasi audiens untuk menggila di moshpit, walaupun dengan sound yang tidak memuaskan. Suara gitar sempat kurang keluar dengan baik, namun para fans Seringai sudah bisa ber-ejakulasi dengan kehadiran band pujaan mereka. Oh, ya, penampilan Seringai ditutup dengan lagu Neraka Jahanam milik Duo Kribo –sempat dipopulerkan oleh Boomerang. Setelah Seringai selesai, langsung dihajar di stage baliknya (jadi harus lari ke stage sebaliknya, damn!) ada Burgerkill disana! Burgerkill langsung menghajar dengan dentuman trash metal yang menghajar anak-anak di moshpit. Kali ini sound sangat menggelegar dan terdengar seperti seharusnya. Metalheads akan merasakan double orgasm disini.

Setelah Burgerkill, ada The Changcuters, yang sedang sangat hype, thanks to television. Yah, seperti bisa diprediksi, antusiasme berlipat-lipat pada penampilan The Changcuters. lagu-lagu sinetron itu mereka bawakan dengan diiringi koor dari penonton. Setelah The Changcuters sebenarnya adalah puncak acara, yaitu Jam Revolution. dimana sebelumnya pernah diadakan juga dibandung menampilkan 5 band, antara lain, Koil, Mocca, Pure Saturday, Alone At Last dan Goodnight Electric, membawakan lagu milik Pure Saturday. Nah kali ini menampilkan Seringai dan Burgerkill bergantian diiringi oleh Minerva. Dan puncak kekesalan saya terhadap two-sided stage ada disini! Setiap selesai lagu, langsung berpindah set panggung ke sisi sebaliknya! Damn! Seringai dan Burgerkill juga tampaknya merasakan kekesalan yang sama, mereka pun berbalik ke sisi depan dan belakang bergantian. Yah, untungnya penampilan kedua band ini sangat memuaskan, Minerva juga berhasil memasukkan nuansa neo-klasik dalam musik cadas.

Sekian dulu laporan untuk pertunjukkan kali ini. couldn’t get enough of Seringai, sampai bisa menonton pada stage yang lebih kecil dan rendah. Hahaha… Selamat kepada para finalis indiefest, semoga sukses! kalo bikin album jangan lupa kasih nama Mellon Zine di ucapan terima kasih, hehehe…
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
Sammy Seringai: pose andalan

Here is, the show case of six finalist of LA Lights Indiefest 2008, Surabaya region to be selected into annual compilation by LA Lights Indiefest. In this year, there is six finalists, Albert and The Product, Robert Davis Chaniago, Wai Rejected, Soulmate, Unda Undi and Pollypop. This show also showing Burgerkill, Seringai, The Changcuters, Minerva, The Morning After and Cigarettes Nation.

As I came on the venue, as I predicted before, there is so crowded, my hypothesis, main cause of the crowd is because the present of The Changcuters as performer. Yeah, their songs were played very often in the TV lately, as soundtrack of several TV serials. As I got inside, I feel some tendency of “Innovation” that being tried by the organizer. With its two-sided stage, back and front, so the audiences don’t have to wait performance after performance, because the performer could prepare its show, when the previous performer is onstage in the different side. Ironically, this “innovation”-things is the most annoying thing along the show. We must turn aside –which mean not a near distance to walk-, each time we want to see the next performer! I hope, this concept would never be used again.

Okay, I catch Minerva performance, although not much. Four lads with violin (string section quartet), they played music, much less like Bond. Then come the time for the six finalists to show their best. The performance divided into two sessions, first session there are Unda Undi, Pollypop and Wai Rejected. From this session, clearly Wai Rejected is most stand out compared the other two. They just so mature in song arrangement. The next session there are Albert and The Product, Robert Davis Chaniago and Soulmate. All of them showing very good performance, but many peoples talk about Soulmate with its electro-pop that not much counted in this town. I don’t want to judge them, as I’m not the jury, but I predict, Wai Rejected and Soulmate would go through the compilation. Haha..

Then, the time for the star performer, the fist performer is The Morning After. Band that its song compiled in LA Lights Indiefest 2007, perform sweetly, with tis 90’s altenative music. Next we have Cigarettes Nation, that appear in the 2007 compilation too. Sing a song from Kill Bill soundtrack in their first song, then appearing Lebonc (vocalist of Apples in The Wonderland –the origin band of Cigarettes Nation) in the last song, (The Curse of) The Downtown Dogz.

After that, Seringai came up, ready to burn-out the stage that night. Yeah, the boys is really enthusiast and passionate to see Seringai. Akselerasi maksimum, that came as the first song directly made a moshpit between the audiences, and bodies are slamming all around. Seringai successfully provoked the audiences to go crazy in the moshpit, although, the sound is not really satisfied me. Guitar sound seems didn’t came out rightly, but the fans is able to ejaculate with the present of Seringai. Seringai finalized their performance ith the song from Duo Kribo, Neraka Jahanam –Boomerang ever sung this song and made it popular too. After Serngai, in the opposite side (I must run to the opposite side of the stage, damn!), there is Burgerkill ready to rock! Burgerkill hit the audiences in the moshpit so hard with its trash metal. This time, the sound is really stand out! Metalheads would experience double orgasm here.

Next, after Burgerkill, there is The Changcuters, who is very hype right now, thanks to television. As expected before, audience enthusiasm is multiplied in The Changcuters show. That TV series soundtrack-song performed altogether with audience voice. Right after The Changcuters, could be the main show, Jam Revolution. Whereas previously held in Bandung, showing 5 bands, Koil, Mocca, Pure Saturday, Alone At Last and Goodnight Electric, play a song by Pure Saturday. But now, is showing Seringai and Burgerkill, each of them together with Minerva. And I’m very distracted by two-sided stage at that time! Right after a song played, the stage is turn aside! Damn! Seringai and Burgerkill seems rather distracted too, they turn back and face front, change side. Thankfully the performance is really great, Minerva success to fill in neo-classical taste in Metal-rock music.

Okay, this is the end of this gig report, couldn’t get enough of Seringai, until their smaller stage show. Hahaha… Congratulation to LA Lights Indiefest Finalists, good luck! Don’t forget to put the name Mellon Zine in thanks list, if you gonna make an album, hahaha…

*Reported and translated by: Jay
*Photo by: Ipunk'd

Date: August 5th, 2008
Place: Garlick 2nd Store, Surabaya
Organized by: Prambors Radio Surabaya
Act(s): The Morning After, Vox, Heavy Monster, Nadi
Also: Indie movie, Lomography by Pahlawan Lomo, Fashion on the Road by Surabaya Fashion Carnival and Garlick


Hoorraayyy… Kembali lagi dengan Tuesday Outloud! Serial dwimingguan yang dipersembahkan utamanya oleh radio Prambors Surabaya. Pada kesempatan yang berbahagia kali ini, ijinkan saya mengulas kembali Tuesday Outloud yang terselenggara pada Selasa malam yang riuh pada 5 Agustus 2008 kemarin di Garlick 2nd Store Jl. Bawean Surabaya.

Yap, begitu datang dengan kendaraan roda dua, parkiran sudah terlihat penuh, woops, sepertinya bakal ramai ini acara. Benar saja, begitu sampai di depan gerbang, sudah ramai itu pemuda pemudi harapan bangsa mengantri untuk masuk ke dalam. Eh, terdengar beberapa selentingan dari teman-teman, kata kata semacam “yah gini aja bayar 10 ribu” “padahal bisa diliat dari luar” alhasil, lumayan banyak yang melihat ini acara dari luar pagar. Di dalam juga memang sudah lumayan penuh sesak rupanya.

Saya datang tepat saat Nadi memainkan lagu terakhir, gosh, I’m so sorry, I can’t describe precisely what music is Nadi brought that night. Saya hanya melihat sekelumit saja, itupun disambi mengobrol dengan teman. Kind of emo? Semoga tidak salah. Shit, help me to correct this if I’m wrong, big sorry! Oh, tanpa mengurangi rasa hormat juga, I’m so sorry to miss the indie movie screening before Nadi. My bad. Yah penampilan kedua ada Heavy Monster, band ska lokal favorit saya, kalau gak percaya, cek aja Friendster saya! Kembali menggoyang penonton dengan irama ska-reggae nya, dan ooh, Herman (Voc) memakai kacamata ala Kanye West! Hmmm… Agak kurang cocok nampaknya dengan ke-ska-an band ini. “Dan Semua Indah” tetap menjadi lagu favorit saya diantara set lagu-lagu Heavy Monster malam itu. Perlu dicatat, ada penampilan spesial malam itu, Heavy Monster tampil berduet dengan Ninit (previously with The Toton) membawakan satu lagu.

Setelah Heavy Monster, ada band yang sooo last year *a-ha* yaitu Vox! Tenang, penampilan Vox malam itu sama sekali tidak basi, malah lebih segar dengan membawakan lagu-lagu barunya, dibantu seorang kerabat dekat yaitu Shaula drummer dari The Karyawan, mengisi vokal tambahan malam itu. Dibuka dengan suara orkestrasi dari laptop sebagai intro dari lagu Berbahagialah. Lagu baru yang semakin bersemangat dan semakin rumit semakin panggung lah! Ooh, tapi sayangnya saya sedikit terganggu karena adanya fashion show yang diselenggarakan oleh Surabaya Fashion Carnival bersama Garlick, berbarengan dengan tampilnya Vox. Karena fashion show memakan tempat di bibir panggung yang sebenarnya menjadi konsentrasi audiens malam itu, hmmmm….. By the way, musik Vox terdengar semakin progresif dan dinamis, got their latest album? Oh, I’m sorry you need some update to figure Vox’s music now, go see the gigs! Instant Classic dan Hidup Tak Selalu Bahagia kembali menjadi nomor yang ingin saya dapatkan mp3 nya (gak pernah denger judul lagu ini? I’ve told you to see the gigs!) Lagu terakhir ada Lagu Rakyat (atas request saya, hahaha kidding) yang di bawakan dengan nge-rock, tidak seperti hidden track pada album Pada Awalnya.




The Morning After menjadi penutup pertunjukkan malam itu, dengan sapaan polite semacam “sebenarnya tidak sepantasnya kami main sesudah Vox, band idola kalian” such words, haha, nice. But actually I think The Morning After got what is needed to be placed as the last performer. Easily notable that night, Onny, drummer-nya memiliki pukulan yang luar biasa, sehingga menyisipkan power yang tepat ke dalam lagu-lagunya. Dan satu lagi, suara Bambang, sang vokalis, sungguh sangat rapid an tepat pada jalurnya. Wuihh, flawless. I can’t say much about describing their music, I’m not very sure, 90’s alternative? Yang jelas Quatro, single andalan yang masuk pada kompilasi Indie Fest terbaru, adalah puncak perhatian penonton malam itu. Dan bagi saya, Dengar dan Diam (semoga tidak salah judul) menjadi lagu yang sangat menyenangkan untuk didengarkan malam itu. Oh, hampir lupa, The Morning After sempat berduet dengan Vox memainkan sebuah lagu dari Procol Harum, A Whiter Shade of Pale.


A nice gigs been held that night. Bands performance, also Lomography exhibition by Pahlawan Lomo, Low Rider showcase, and Fashion on The Road by Surabaya Fashion Carnival. & Garlick. Nice venue, nice performers, nice audiences so it’s nice!



---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hoorraayy… Back again with Tuseday Outloud! Two-weekly serial, that presented by Prambors Radio, Surabaya. In this happy occasion, allow me to review the last Tuesday Outloud that been held on Tuesday night, August 5th 2008 at Garlick 2nd Store Jl. Bawean Surabaya.

As I came with my two-wheel vehicle, the parking area seems full, woops.. I thought this will be so crowd. Then I’m right, in the front gate there is so much young boys and girls queuing to enter the venue. Oops, I heard some words from friends, such as “oh please, I must pay 10 thousand rupiahs only for these?” “we can see it from the outside” as the result, many of them see the gigs from outside of the gate. It is crowded inside, eventually.

I came right when Nadi played their last song, gosh, I’m so sorry I can’t describe precisely what music is Nadi brought that night. I’ve seen a bit of that, while chatting with my friends. Kind of emo? I hope I’m not wrong. Shit, help me to correct this if I’m wrong, big sorry! Ooh, without losing my respect, I’m so sorry to miss the indie movie screening before Nadi. My bad. Yeah, the second performer is Heavy Monster, my favorite local ska band, check my Friendster profile if you don’t believe me! Again skankin’ the audience with its reggae-ska beat, and ooh, Herman (Voc) is wearing Kanye West-very popular-glasses! Hmmm.. Not so well suited with the ska theme, I think. “Dan Semua Indah” still my favorite song in the set. Please not, there is special performance that night, Heavy Monster appear featured with Ninit (previously known in The Toton) performing  a song.




After Heavy Monster, come the next band, a sooo last year band *a-ha* it’s Vox! Haha, calm, Vox performing a very fresh air that night, with its brand new set of songs, so fresh! Helped with a close friend, Shaula, drummer of The Karyawan, filled additional vocal that night. Opened with orchestration from a laptop as the intro of the song Berbahagialah. New song that more spirited, complex yet very stage-act! Ooh but what a pity, I felt a bit distracted by the fashion show held by Surabaya Fashion Carnival with Garlick, that appear in the same time same stage as Vox. Because the fashion show take a place in the very front of the stage, that supposed to be the concentration of the audience take place, hmmmmm…. By the way, Vox musically sounds more progressive and dynamic, got their latest album? Oh, I’m sorry you need some update to figure Vox’s music now, go see the gigs! Instant Classic and Hidup Tak Selalu Bahagia again being the track that I always want the mp3 as mine (never heard of this song? I’ve told you to see the gigs!) Last song is Lagu Rakyat (following my request, hahaha, kidding) that rockin’, didn’t like the hidden track version in Pada Awalnya record.



The Morning After is the closing act that night, with their polite greeting such “actually we don’t deserve to perform after Vox, your idol” such words. Haha. Nice. But actually I think The Morning After got what is needed to be placed as the last performer. Easily notable that night, Onny, the drummer has outrageous drum-punch, result in huge power in the live performance that slip rightly in the songs. One more, Bambang the vocalist, his voice just really smooth and went in the very right track. Flawless. I can’t say much about describing their music, I’m not very sure, 90’s alternative? Being clear, Quatro, the single that compiled in newest Indie Fest compilation, is the top of attention that night. And for me, Dengar dan Diam (I hope I’m not wrong mentioning the title) becoming very nice song to listen. Ooh, The Morning After also made a duet performance with Vox performing A Whiter Shade of Pale by Procol Harum.

A nice gigs been held that night. Bands performance, also Lomography exhibition by Pahlawan Lomo, Low Rider showcase, and Fashion on The Road by Surabaya Fashion Carnival. & Garlick. Nice venue, nice performers, nice audiences so it’s nice!




Report by: Jay
Photo by: Ipunk'd

Bottlesmoker

-Yogyakarta

Saya datang tepat sebelum acara dimulai! jalan kaki dari stasiun tugu ke Kinoki!

Gig yang dibikin oleh yesnowave dan diatur oleh VJ Gentong, Sabtu 19 Juli 2008, dibuka dengan BOTTLESMOKER, duo electro pop asal bandung (ini alasan kedua kenapa saya dtg ke YK) mereka memainkan hampir semua track di SLOW MO SMILE, terutama track fave saya, Before Circus Over! suasana di kinoki jadi tambah menyenangkan!

Atraksi selanjutnya adalah alasan pertama saya ke YK, Jimmy “Seek Six Sick” Mahardika, dia make Apple, noise dengan sentuhan timur tengah (sebenernya ngak paham juga soundnya), dia main satu track dengan durasi kira-kira 20 menit. Sebenernya saya mengharapkan atraksi yang “aneh” dari Jimmy karena saya melewatkan gig Seek Sick Six di Surabaya beberapa tahun yang lalu.

Next adalah headliner, Lucas dari Sydney , seorang experimentalis (nah ni konsep juga belum saya pahami) dengan media kaca dan efek gitar, 3 efek dipasang pake sabuk di pinggangnya, jadi dia nggak usah jongkok ke bawah untuk explore efek. Lucas membuat sound dengan cara mengeluarkan udara dari bibir yang menempel di kaca, dia perform one take sekitar 20 menit, adegan klimaks adalah saat kaca pecah akibat tekanan bibir nya! Si Lucas itu nyeker…untuk kagak kesetrum, tapi berdarah kena pecahan kaca…kalah deh pemain kuda lumping hihihi

Penampilan terakhir diisi dengan Ruli dan Bhakti dari ZOO, Ruli pada vocal dan Bhakti make bass gesek sama mandolin! FYI, ZOO adalah band tanpa gitaris! Kerennya si Ruli itu mixing banyak bahasa terutama bahasa daerah (dia itu translator)! Mereka main 3 lagu dan 1 lagu tambahan akibat desakan crowd “we want more” hihihi…

Belum berakhir gig di kinoki, seperti biasanya DJ local beraksi!

*Suwun sing akeh buat Wok The Rock, Gentong, Angkuy, Juliuz, Idharrez, Agum, Ito, Bhakti, Moeklas, Agil
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
I came exactly before the show begun! Walking down from Tugu Station to Kinoki!

Gig that created by yesnowave and maintained by VJ Gentong, July 19th 2008, opened by Bottlesmoker,Slow Mo Smile, also my fave track, Before Circus Over! It's getting exciting there! electro pop duo from Bandung (this was my second reason to come to YK) they played almost entire tracks in

The next performance is my first reason to come to YK, Jimmy "Seek Six Sick" Mahardika, he use Apple, play noise with middle-east-like touch (i'm not really understand the sounds, though), he played one track with at least 20 minutes long. Actually i'm expecting "weird" performance from Jimmy, as i missed previous Seek Six Sick gig i Surabaya years ago.

Next, is a headliner. Lucas from Sydney, an experimentalist (i'm not really understand yet this concept, though) with mirror and guitar effect as medium. Three effects wore on his belt, so he doesn't have to go down to explore the sounds. Lucas make sound with blowing air from his lips that stick in the mirror, he performed that for 20 minutes one take. the climax is when the mirror broke because the pressure of his lips! Lucas didn't wear foot apparel to avoid electricity, but got bleeding because breaking a mirror with his lips.

The last performance is Ruli and Bhakti from Zoo, Ruli on vocal and Bhakti play cello and mandolin! Fyi, Zoo is a band without guitarist! The cool part is, Ruli mix many languages especially traditional languages because he is a translator! They set 3 songs and 1 encore because the crowd want it more hehehe...

Before end, as usual, local DJ set an action package. hehe...

*Thanks to Wok the Rock, Gentong, Angkuy, Juliuz, Idharrez, Agum, Ito, Bhakti, Moeklas, Agil.

Gig report by: Tinta
Photo taken from: www.juliuzickboy.multiply.com
Photographed by young photographers from a syndicate called [BRIGADEPOTO], members are: Doly Amitabha, Ricky Emonita, SamLaey, Idharrez, Erwin.