Showing posts with label Article. Show all posts
Showing posts with label Article. Show all posts

Aksara Records Bubar! Udah Pada Tau Kan?!




Kaget juga, sekitar akhir taun 2009 kemarin, baca tweet dari SOREband yang menyatakan bubarnya aksara records disertai link ke website rolling stone magazine indonesia yg memberitakannya. Well, sudah sekitar setengah dekade, aksara records menyuplai telinga orang indonesia dengan musik musik berkualitas, daripada apa yang ditawarkan televisi dan radio arus utama di negeri ini.

Band band terhebat Indonesia dimunculkan albumnya oleh aksara records. Sebut saja Sore, White Shoes and The Couples Company, The Adams, Vox, The Brandals, belakangan tergabung juga Efek Rumah Kaca dan Goodnight Electric, dan masih banyak lainnya. Dengan memprioritaskan produksi musik bagus daripada produksi musik laris, tentu saja aksara records menjadi rumah bagi pemusik yang ingin mencetak musik mereka dengan produksi terbaik negeri ini melalui rilis album di aksara records.

Sayangnya Indonesia belum siap menyerap produk dari record label seperti aksara records. Effort produksi yang fantastis, tidak berbanding lurus dengan penyerapan pasarnya. Yah, negeri berbudaya copy paste mp3 ini memang telah memanfaatkan celah teknologi dengan begitu baiknya. Hingga penjualan album fisik (cd/cassete) menjadi mati di negeri ini. Sedangkan ranah baru, nada sambung/ring back tone masih dikuasai band dan penyanyi yang berseliweran di TV. Hukum alam tampaknya telah menggerus aksara records hingga jatuh terjungkal. Secara industri, aksara records mungkin sudah tidak feasible (baca: tidak menguntungkan secara hitung hitungan bisnis). Maka runtuhnya generasi aksara records sebenarnya mungkin memang sudah tinggal menunggu waktu saja.

Lantas, darimana kuping kuping yang sudah teracun generasi aksara akn mencari musik? Well, aksara memang salah satu record label dengan artis terbaik, namun bukan satu-satunya label seperti itu. Masih ada Fast Foward Records, Black Morse, Lil' Fish Records, Paviliun Records, Nagaswara (oops, did I mispelling something?) Dan banyak lainnya yang mungkin tidak terdeteksi radar. Oh jangan lupa masih ada juga netlabel macam Yes No Wave, Apokalip Webzine dengan Reload Your Stereo nya In My Room Records, 16Hole Record  bahkan Mellon Zine dengan MTDS nya :D.

Lagipula ada raksasa records, suksesor aksara records, walaupun belum kita ketahui juga bagaimana gebrakannya. Paling tidak ada nama David Tarigan, Aldo FIrmani dan Dono Firman disana, yang sebelumnya juga sama-sama terlibat di Aksara Records. Dan amunisinya sudah diisi oleh SORE dan Whiteshoes and the Couple Company, yay! Yah let's see.... Label keren tumbang, musisi tidak ikut tumbang. So, setelah beberapa tahun I should thanks to aksara records that had provided me with cool music :D (Jay)

*Written by: Jay


click readmore for full stories

"When a Bipolar Woman Has The Ability To Write Songs and Has a Million Dollar Voice, The Result: TIKA"



TIKA
Maka ketika seorang wanita bipolar memiliki kemampuan untuk menulis lagu sekaligus suara menakjubkan, pun menjelmalah: TIKA.

Kartika Jahja lahir di tahun 1980 dalam keluarga yang memiliki darah seni. Singer/songwriter asal Indonesia ini telah menempuh aneka jalur musik dimana dia sempat bergabung ke dalam sebuah band punk, band jazz, grup hip hop, bahkan band Top-40 . Dengan satu alasan: Dia senang sekali bernyanyi. TIKA mulai menjalani musik secara serius ketika bergabung dengan band Yoko Phono saat berdomisili di Seattle, AS. Band tersebut bubar saat TIKA kembali ke tanah air. Saat ini, selain keterlibatannya sebagai vocal talent untuk scoring berbagai film layar lebar, TIKA masih sering berkolaborasi dengan berbagai musisi dari bermacam-macam genre. Diantaranya Aksan Sjuman, Jamie Aditya, Agrikulture, dan lain lain.

Namun TIKA mencuri hati banyak orang dengan lagu-lagunya sendiri saat dia mengeluarkan album debut pertamanya ‘Frozen Love Songs’ di tahun 2005. Dikemas ulang sebagai ‘Defrosted Love Songs’ pada tahun 2006. Sang biduanita pun dikenal handal menggagahi mikrofon. Seluruh perasaannya tumpah ruah memecah wajah saat berlaga di atas panggung.
TIKA pun lantang menyuarakan pendapatnya yang tanpa tedeng aling-aling menguak borok budaya populer mulai dari televisi, industri musik, hingga diskriminasi seksual. Hal ini kerap kali menjadikannya terpojok keluar dari industri mainstream nan glamor.

Orang boleh saja menkotakkan musik TIKA sebagai trip hop, jazz, noir pop, dan aneka nama jejadian yang membuat kami mengulum senyum. Beberapa fans pernah mengirimkannya silet berlumur darah bekas menyayat nadi. Para teroris internet mengecamnya terlalu ‘gemerlap’ untuk jadi kiri. Meskipun demikian, TIKA sendiri tak pernah meproklamirkan dirinya sebagai apapun kecuali seorang biduan. Yang dia inginkan hanyalah merasakan ‘hidup’ menggejolak melalui musik, dan berharap para pendengarnya pun dapat mengalami perasaan yang sama. Untuk meninggslkan meja kantormu dan berteriak bila kau mau. Untuk merasa indah meskipun serbuan iklan mengatakan kau harus lebih ramping, lebih putih, dan berambut lebih lurus. Untuk mematikan televisimu dan bercinta… dengan diiringi alunan lagu TIKA, semoga.

The Dissidents
Setelah kelelahan berganti-ganti pasangan di atas panggung dalam setiap penampilannya, TIKA akhirnya memutuskan untuk membentuk band pengiring permanen. Maka berpadulah the Dissidents, pada tahun 2006. Seiring waktu, ketiga lelaki dengan gaya bermusik yang beragam ini, menjadi sangat berpengaruh dalam proses penulisan lagu TIKA.

Susan Agiwitanto sang bassist (ya ia adalah lelaki, dan ya nama aslinya memang Susan), adalah personil dengan koleksi baju hitam terbanyak dalam band ini. Susan membagi waktunya antara sang istri tercinta, TIKA, dan band progressive bernama “In Memoriam”. Saat bergabung dengan TIKA, Susan menggantung bass elektrik lima senarnya dan mulai memainkan contrabass untuk menyesuaikan diri dengan musik TIKA.
Berikutnya, penabuh drum Okky Rahman Oktavian. Pemuda Padang yang di usia 25 tahun, tubuhnya masih terus bertambah tinggi (tidakkah ini sedikit mengkhawatirkan?). Okky berangkat dari band post-rock “godsmustbecrazy”. Selain bermain musik dan bekerja di sebuah perusahaan IT, ia juga seorang pencerca bermulut tajam yang sadistis namun jenaka.

Terakhir adalah si pemikat hati wanita, Luky Annash. Pria sensitif bertutur halus yang piawai memainkan jarinya di piano. Luky telah bermain bersama TIKA sejak sebelum kedua personil di atas bergabung. Hampir setiap waktu ia menjejali telinganya dengan lagu-lagu Tori Amos dari iPod putihnya, hingga tak elak gaya bermusiknya pun tertular. Selain bermain dengan “TIKA & the dissidents” Luky juga seorang penyanyi dan penulis lagu berbakat yang mempunyai proyek solonya sendiri.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
TIKA & the dissidents video teaser: The Headless Songstress

TIKA
When a bipolar woman has the ability to write songs and has a million dollar voice, the result: TIKA.

Kartika Jahja, was born in 1980 to a somewhat artistic family. This Indonesian singer/songwriter have gone through a colorful music journey where she joined punk bands, jazz bands, hip hop acts, even cover bands just for the sake of singing. But she ripped out many hearts with her own songs when she released her first critically debut album ‘Frozen Love Songs’ in 2005. Repackaged as ‘Defrosted Love Songs’ in 2006. The songstress also knows how to rape a microphone, with her expressive stage acts which is a plethora of many heartfelt emotions.

TIKA also has a knack for criticism with the way she often speaks ugly truths about popular culture; television, music industry, sexual discrimination and so on, which naturally corners her into the fringe side of the culture more than the glamourous mainstream industry.

People in the past, have called her music trip hop, jazz, noir pop and every made-up name that made us giggle every time. And despite some fans sending her bloody arm-slashing razor blades, and internet terrorists telling her that she is too glossy to be a lefty, TIKA never proclaimed herself to be anything other than a singer. All she wanted was for herself to be able to feel alive through music, and hopefully for her listeners to feel alive with her. To get out from behind that desk and scream if you want to. To feel beautiful even when the ads say you gotta be thinner, whiter and have smoother hair. To turn off your TV and make love…hopefully, with her songs in the background.


THE DISSIDENTS
The Dissidents came to the rescue in 2006 as TIKA grew exhausted of having multiple partners on stage every time she performs. A permanent back up band was then appointed. The band, later on baptized as the Dissidents, would bring a major influence in TIKA’s more recent songwriting.

Susan Agiwitanto (yes that’s his real name), the one with the most black tshirt collections in the band, came from prog-rock band ‘In Memoriam’. He switched his electric to accoustic upright just for TIKA. We love him for that.

Drummer Okky Rahman Oktavian, a West Sumatran young man who is still growing taller as we speak, also joined the troop at around the same time. Hailing from post-rock band ‘Gods Must Be Crazy’, besides drumming and working a day job as a sales rep in an IT company, he is also a professional bad-mouther. You don’t want to get on his bad side.

The last but not least, is ladies man Luky Annash. Our Mr Sensitive here plays the piano. Luky have played with TIKA long before the other two did. He listens to Tori Amos at almost every waking hour, and her style inevitably rubbed off on him. Luky is also a talented singer on his own time.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Diskografi
Metrofiction – Yoko Phono (2002) (released in US)
Narcisstika EO – Yoko Phono (2002) (released in US)
Frozen Love Songs – TIKA (rooftopsound-2005)
Defrosted Love Songs – TIKA (aksara records- 2006)
OST Thank You and Goodnight Mother (2006)
Kompilasi Change Yourself (2006)
OST 9 Naga (2006)
Dawai Damai – Agrikulture (aquarius-2007)
OST Berbagi Suami (2007)
OST Kala (2008)
Pintu Terlarang (2009)
The Headless Songstress (released on 24 July 2009)


*Hit readmore for full stories!

"Simple, honest, easy, yet stylish, and it's impossible not to love Zooey" 
-www.mellonzine.com-


M. Ward & Zooey Deschanel as She & Him


Sebuah album yang menyenangkan untuk disimak, telah dihasilkan oleh She & Him, bertajuk Volume One. Setelah sebelumnya saya tak awas dengan She & Him dan langsung tertarik pada deretan tracklist mereka karena ada lagu I Should Have Known Better, -ya mereka meng-kover lagu Beatles itu-. Jadilah saya langsung suka dengan cover version I Should Have Known Better ini, yang membawa suasana bersantai di pantai meminum es kelapa muda langsung dari buahnya dengan hujaman hangat sinar matahari. Hahaha… Bergantian lagu demi lagu lainnya mulai merasuki telinga dan hati saya, dengan musik yang sederhana, mudah tapi tidak sekedarnya walau tidak dengan cara yang spektakuler.

She & Him, -ternyata- adalah Zooey Deschanel dan M. Ward. Tidak pernah mendengar nama-nama ini? Ha… Zooey Deschanel, adalah seorang aktris, pemain film, Almost Famous, Yes Man, The Happening, dia hadir disana. Dan, ya dia bermusik dengan M. Ward yang ditemui dalam sebuah set film yang dibintangi Deschanel (The Go-Getter) dengan bendera She & Him. Sedikit sejarah, Deschanel sebenarnya sudah menulis banyak lagu yang dia rekam sendiri di rumah, namun tidak pernah cukup percaya diri untuk diperdengarkan pada orang lain. Ketika diperdengarkan pada Ward, justru rekaman-rekaman Deschanel inilah yang menjadi pondasi lagu-lagu She &; Him. Kesederhanaan lagu-lagu Deschanel –dengan karakter vokalnya yang sebenarnya tidak terlalu istimewa namun terdengar begitu jujur- diramu Ward dengan manis, menjadikannya easy listening, dengan sound yang mudah namun tidak menjadikan lagu-lagunya dangkal.

Kehadiran Zooey Deschanel dalam She & Him tentu menjadi titik perhatian tersendiri. Yeah, Deschanel cukup menjadi public figure di barat sana. Foto-fotonya banyak terpampang di majalah remaja, dia juga cukup aktif main di film Hollywood, dan dia juga bertunangan dengan vokalis dari Death Cab For Cutie,  Ben Gibbard. Dan leganya dia tidak memainkan music yang cheapy seperti Paris Hilton punya atau BBB dari Melly Goeslaw punya. Masih satu level diatas Scarlett Johansson punya album. Hahhaa.. Scarlett Johansson punya I Don’t Wanna Grow Up-nya The Ramones di albumnya, Deschanel punya I Should Have Known Better-nya The Beatles di She & Him, dan I Should Have Known Better ini masih much better than I Don’t Wanna Grow Up itu. Yeahahaha…

Telisik sedikit di album Volume One, lagu-lagu favorit saya adalah, This is Not A Test, I Thought I Saw Your Face Today, I Was Made For You, I Should Have Known Better dan Sweet Darlin’. Volume One dikemas secara musical dalam konsep yang utuh, music yang minimalis, sederhana dan mudah. Ketukan sederhana, genjrengan gitar yang santai dan backing vocal choir di beberapa bagian yang menjadi daya tarik tersendiri. Dengan esensinya yang berada di karakter penulisan lagu yang khas. Sederhana, polos, mudah namun memiliki gaya. M. Ward nampaknya tidak pernah bermaksud membuat musik yang berat untuk dicerna, ataupun eksplorasi sound dan instrumen yang terlalu detil dan rumit. Rasanya She & Him meramu musik yang asyik dan mudah untuk dinikmati dan didengarkan. An easy folk-ballads-pop album. Recommended for sure!
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

It's impossible not to love Zooey, isn't it? :)

A really enjoyable album to watch, had been produced by She & Him, titled Volume One. As i'm not really aware of She & Him before, i directly attracted with the tracklist they had offered in the album because I Should Have Known Better  -yep, they made a cover version of those Beatles song- is there. Suddenly i love that cover version, bring me a pleasant atmospheric, leisure at a beach, drinks coconut water and a warm sun-tanning. Hahaha... Slowly, each other songs start to hit my ear by turns, with a simple music, easy but not as it goes by instead it's not in a spectacular way.

She & Him, are Zooey Deschanel and M. Ward. Never heard those names? Ha... Zooey Deschanel, is an actress, played in movies, Almost Famous, Yes Man, The Happening, she present at those movies. And yes, yet she's on her musical career now with M. Ward -met at a movie set starred by Deschanel (The Go-Getter)-, in a band called She & Him. A bit history, Deschanel actually wrote her own songs and recorded in a home-made demo, but never exposed these on public before M. Ward. And those demos instead had been the foundation of She & Him music crafting. Simplicity of Deschanel songs -with her vocal character whose not so special but feels really honest- met by Ward sweet composition, made this really easy listening, with a easy-light sound but didn't made this shallow in musical content.

Deschanel present in She & Him surely bring some attraction point. Yeah, Deschanel is a public figure far there on the west side of the globe. Her photos printed much on a teen magazines, she played in numbers of movies, Hollywood, and she engaged to Ben Gibbard -Death Cab For Cutie vocalist-. But, fortunately she's not playing cheapy music like Paris Hilton had or BBB's of Melly Goeslaw had. Yet, still a level over Scarlett Johansson had an album. Hahaha.. Scarlett Johansson had I Don’t Wanna Grow Up of The Ramones in her album, Deschanel had I Should Have Known Better of The Beatles with She & Him, and this I Should Have Known Better still much better than those I Don’t Wanna Grow Up. Yeahahaha…

A bit sneaky on the album, Volume One, i pick some of the songs as my favorites as This is Not A Test, I Thought I Saw Your Face Today, I Was Made For You, I Should Have Known Better and Sweet Darlin’. Volume One was musically packed on a whole solid package, minimalist music, simple yet easy, and it's impossible not to love Zooey. Simple beat, leisure guitar jangling and backing vocal choiring at some parts become its own attractiveness. With its essential point on their unique characterized song-crafting spell. Simple, honest, easy, yet stylish. M. Ward seems never meant to made a heavy music to be consumed, nor detailed, complex, far exploration on sound and instrument section. It just felt likes She & Him produced a really loveable and easy music to be listened. An easy folk-ballads-pop album. Recommended for sure!
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

She & Him
Genre: Pop, Folk, Ballads
Based in: US
Label: Merge Records
Year: 2008
Rate: 8.5/10
MySpace








Download digital booklet for this album, click here (lyrics, credits, and artwork)---click readmore for full story and more videos & infos---


Tracklist

01. Sentimental Heart
02. Why Do You Let Me Stay Here?
03. This Is Not A Test
04. Change Is Hard
05. I Thought I Saw Your Face Today
06. Take It Back
07. I Was Made For You
08. You Really Got A Hold On Me
09. Black Hole
10. Got Me
11. I Should Have Known Better
12. Sweet Darlin'
13. Swing Low, Sweet Chariot


This is how you couldn't not love Zooey :)

*Written by: Jay
*Translated by: Jay



Mellon the fuckin zine is fuckin dead! So fuck you! Ha-ha.. What a dead! Yeah we're dead, i mean i'm dead, no grave, no funeral, no cry baby, it's just disappear like a fart. Stinks then gone. This isn't the grave, folks. You don't have to wear black suit here, just wear your black-metal shirt as usual, and masturbate in ignorance.


*Resurrection is always an option in a horror scene. give it a sequel or more! Gravedigger are you there?

-DEAD-


*words by: Jay

"A Medical Student-Bedroom Musician-Japan’s Anime-Manga Freak-Kind of Double Personality-English Literary Preference"

Shorthand Phonetics

Malam itu sehabis berbuka puasa, saya ber-online ria. Agak bosan, lalu mulai muncul percikan ria untuk porn browsing. Haha.. tiba-tiba notification di Yahoo Messenger bunyi, hmm.. Ababil Ashari baru saja menjadi kontak saya di YM. Lalu tak lama dia mulai menyapa ”Doing the interview through IM maybe fun, come to think of it...” he said. He is the man behind Shorthand Phonetics (SP), if you don’t know. Dan saya memang berjanji untuk menginterview SP, akhirnya berbincanglah kita, let’s say we did an interview. Haha..

Coba buka Yes No Wave di www.yesnowave.com disitu ada dua album yang bisa diunduh gratis (ya, selalu gratis memang). Album yang saya maksud adalah OST Ngintip!…Run, Budi, Run! dan Apparently...I'm In Medicine / Love, or the Illusion of the Beginning Symptoms of It, kedua album ini hasil kreasi SP. Dan pada akhir bulan September, album ketiga SP akan segera rilis via Yes No Wave juga. Anyway, Ababil give me the album two weeks ago, jadi saya sudah mendengarkan album barunya. Tiga album SP, dirilis sejak 2006 sampai 2008 sekarang, kesemuanya lewat internet, gratisan, dan tanpa bentuk fisik sama sekali! Untuk apa seorang mahasiswa kedokteran seperti Ababil Ashari terus melakukan hal ini, dan sendirian?

Bermaksud memainkan cover lagu Radiohead, bersama jenius fisika yang bisa bermain piano, bernama Kevin Yapsir, Ababil dan Kevin malah membuat lagu pertama SP yang berjudul Green Apple Green. “Selagi kita bikin Green Apple Garden di ruang musik, anggota lain mulai datang soalnya penasaran, ada apa sih rebut-ribut gak jelas di ruang band” dan line up SP kemudian adalah Ababil Ashari (voc, guitar, programming), Kevin Yapsir (guitar, voc), Alfonsus Tanoto (bass, voc), Daniel Sastro (guitar), Alvin Lasmana (drum). Tepat setelah formasi ini terbentuk, Ababil dkk langsung ingin membuat sebuah album. And they did, menggunakan laptop NEC Versa dan webcam mic. Tidak seperti kebanyakan band atau musisi, yang bertapa dulu mengumpulkan materi baru kemudian menyusun materi itu kedalam album. Ababil membuat garis besar konsep album dulu, baru kemudian membuat lagu-lagunya. Bahkan judul lagu datang terlebih dulu daripada lagu-nya “I wrote the titles for album 2 first THEN write the song” jelas Ababil.

Formasi SP pada album pertama, tidak bertahan lama. Album pertama yang rilis di internet pada 2006, lumayan sukses dengan konsep fan fiction-nya ”Kebetulan lagu-lagu Harry Potternya ngena di audience Wizard Rock jadi bisa kedownload 19,415 kali” jelas Ababil. Setelah itu, formasi SP tercerai berai ”Abis rilis album 1 bubar deh! Soalnya pada mau keluar negeri”. Ababil sendiri melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Unpad. Kevin Yapsir si jenius fisika, bahkan bersekolah di MIT. Nah kemudian Ababil meneruskan petualangan musiknya, masih dengan nama SP.

Sebenarnya SP bukan sekedar profil bermusik seorang Ababil Ashari. Shorthand Phonetics adalah buku harian dari Ababil Ashari. Sejak album pertama, SP selalu mengisahkan seorang Jepang bernama Hanabishi Hideaki. Album pertama adalah tentang cerita yang dibuat oleh Hide tentang dunia Harry Potter, Ranma ½, etc (a fan-fiction made by Hide). Album kedua adalah tentang tahun pertama Hide di medical school. Album ketiga adalah tahun keduanya. Album ke empat bakal menjadi tahun ketiga-nya Hide. You can simply replace the name “Hide” with “Ababil”, karena memang ini adalah cerita si Ababil sendiri. Ababil menegaskan “What happens to me here in Indonesia happens to Hide in that parallel universe version of Japan".

You might think Ababil is kind of freak kid. Yeah, a medical student-bedroom musician-Japan’s anime manga freak-kind of double personality-English literary preference, you don’t find a kid with such a profile very often in the neighborhood, don’t you? But wait, English literary preference? Yah, 75% pembicaraan YM ini dibalas oleh Ababil dengan bahasa Inggris. Awalnya saya pikir emang dia suka sok-sok an pake bahasa Inggris. Ternyata dia semacam Cinta Laura! Haha.. Ababil pernah tinggal di Kanada selama dua tahun, dan sekembalinya di Indonesia, ibunya selalu membuat Ababil berbicara bahasa Inggris di rumah. “I actually speak Indonesian as a second language, because I speak English better than Indonesian, it's just that I grew up knowing English first Indonesian second”. Ouw, ternyata bukan sok-sok an pake bahasa Inggris. Ababil ini memang semacam Cinta Laura, “I actually talk like Cinta Laura kind of” katanya.

Kembali ke Shorthand Phonetics, jelas sudah bahwa SP adalah upaya dokumentasi yang dilakukan Ababil dalam kehidupan sehari-harinya, melalui karakter Hide. Karakter lain yang dia ciptakan dalam dunia SP juga adalah berdasarkan karakter nyata di kehidupan Ababil. Seperti karakter Fujioka Tsubasa yang seringkali menjadi tokoh sentral selain Hide. Tsubasa adalah cewek yang disukai oleh Hide, dan banyak lagu yang berkisah tentang bagaimana Hide berusaha mendapatkan Tsubasa ini. Dimana sampai album ketiga ini Hide masih belum bisa mendapatkan Tsubasa, and so did Ababil of course. Track pertama di album ketiga adalah tentang rasa depresi Hide karena ditolak Tsubasa, dan track-track selanjutnya masih di dominasi cerita tentang Tsubasa juga. Jangan terlalu berharap semua lagu SP sangat story telling dengan cerita-cerita tentang Hide. Walaupun memang itulah yang disampaikan Ababil, tapi Ababil melakukannya dengan caranya sendiri. Beberapa lagu adalah lagu tanpa vokal, tapi sebenarnya ada cerita monumental di baliknya. Ababil mengaku bahwa lagu-lagunya di SP adalah lyric-based, menanggapi tentang adanya lagu non vokal, dia berkata bahwa judul lagunya yang datang duluan dan baru membuat arah musikalnya.

Well, berbicara tentang musik dari SP, sebenarnya sampai sebelum berbincang dengan Ababil, saya sempat bingung dengan arah musikal SP. Pada awal interview, Ababil menjelaskan bahwa SP memainkan  lo-fi indierock. Saya masih bingung, karena beberapa lagu sulit ditarik benang merah keterkaitannya, dan beberapa lagu juga terdengar eksperimental. Sampai pada pertengahan interview, saya mulai bisa melihat konsep garis besar-nya, bahwa SP adalah proyek musikal Ababil Ashari yang sangat personal. Ini adalah representasi preferensi musikal seorang Ababil Ashari. Indierock is enough to describe it in a genre, because indierock is wide enough. And lo-fi? Saya rasa sedikit banyak istilah lo-fi dipakai Ababil untuk menjadi pembenaran kualitas teknis rekaman SP yang memang tidak terlalu jernih. Walaupun saya rasa cukup stand out untuk sebuah solo work, mulai dari song-writing, rekaman, sampai rilis. “I maximizing the potential of my current equipment” jelas Ababil. Bagaimanapun SP di deklarasikan berpijak di ranah lo-fi music, “The general belief in the lo-fi scene is that a good song recorded crappily is still a good song, while I don’t agree with that 100% I think it's a bit true” kata Ababil.

Satu hal lain yang sangat mencolok dari SP adalah, judul-judul lagu dan albumnya yang sangat panjang dan berbentuk kalimat. Lihat saja, contohnya lagu dari album ketiga "21st of March 08: "The Ravenclaw Common Room is a IDM Discotheque Now!, or, Above the Stratosphere Is Where My Happiness Lies (Which Is to Say, "I Can Never Jump Up and Reach It")" judul untuk track 5. Judul albumnya sendiri adalah "Fire! (I Could Have Died and All I Could Think About Was My Charred Diary)". Ada apa sebenarnya dengan judul serba panjang ini? “I'm trying to convey something that has only one meaning” jelas Ababil. Ababil ingin pesan dalam lagunya tidak menjadi bias, “I want the mood and message of the to be as clear as possible the way I wrote it.” jelasnya. Susah di ingat, ya pastinya. Bahkan Ababil sendiri menyebut lagu atau albumnya dengan “Track 1, track 2, track 3” dan “Album 1, album 2 album 3” pada interview ini.

Dengan membuat album dari SP menjadi se-personal ini, apa yang ingin dicapai Ababil melalui SP? Tidak ada ambisi berlebih bagi Ababil melalui SP. Mengerjakan SP adalah sebuah kesenangan pribadi baginya, “If more people listen to me, so be it” jelasnya. Jika tidak ada yang mendengarkan juga tidak ada masalah baginya, “I'm in this for my personal satisfaction, nothing else” katanya. Sekalipun, Ababil memiliki ekspektasi terhadap pendengar SP, “Well, I want them to listen to the albums from start to finish at least once” jelas Ababil. Walaupun begitu Ababil hanya meninggalkan sedikit ruang bagi pendengar untuk menginterpretasikan lagu-lagu SP secara bebas. Tidak seperti band lain yang biasa bilang membebaskan pendengar untuk menginterpretasikan lagunya, SP tidak malas untuk membuat deskripsi dan definisi yang cukup detil tentang pesan dan mood dari lagu-lagunya.

Siapa yang tahu apa yang bisa dihasilkan Ababil Ashari lewat Shorthand Phonetics kedepannya? Tidak banyak orang yang mau share buku hariannya kepada orang lain, Ababil do. Walaupun buku hariannya berupa konsepsi dokumentasi musikal fiktif bernama Shorthand Phonetics. Ababil sudah berancang-ancang, bahwa akhir untuk SP kemungkinan adalah setelah album ke 5, dimana menceritakan tahun ke empatnya di Fakultas Kedokteran Unpad. Setelah itu Ababil akan Ko-Ass, dimana waktu luang akan semakin sedikit baginya, karena harus berjaga di rumah sakit. Menjadi dokter adalah masa depan kehidupan nyatanya, Shorthand Phonetics adalah sebuah hobi. Well, we’ll see how Ababil will kill Hide. Hahaha…


*Trivia quiz with Ababil Ashari:

Deskripsikan Fujioka Tsubasa! what kind of girl is she?
- She is 150-160 cm tall, glasses, incredibly smart, incredibly neurotic, slightly depressed, braces, ex-video-gamer, opiniated, extremely shy, etc.

Okey, kenapa Ranma bisa berubah gender? Jelaskan secara medis.
- Umm... Because Rumiko (author) has this double oedipal fantasy in which she wants to experience both sexes...this is reflected in her main characters the bi-gender Ranma and unisex Inu Yasha... Psikiatri sih. Tapi tetep medical kan? Hahaha..

Mesin waktu di Doraemon, apakah berarti paralel universe? Atau gimana?
- The way time is demonstrated in Doraemon, is similar to Back to the Future, so yes...it is a parallel universe, in which they create. They disappear from their original universes constantly.

MP3 format dan internet: kehancuran dunia industri musik atau masa depan?
- Kehancuran dunia INDUSTRI musik. Di masa depan semua musik akan gratis dan artis harus main pertunjukan untuk sukses ha ha ha ha.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Shorthand Phonetics

That night, after I broke my fast, I get online. A little bored, then suddenly an intention to porn browsing comes. Haha.. Sudden, Yahoo Messenger notification beeping, hmm.. Ababil Ashari just has been my contact on YM. Not very long, he start to chat, ”Doing the interview through IM maybe fun, come to think of it...” he said. He is the man behind Shorthand Phonetics (SP), if you don’t know. And I have a promise to interview SP, so, we’re talking then, let’s say we did an interview. Haha..

Go to the Yes No Wave page at www.yesnowave.com there are two albums can be downloaded for free (it’s always free). The two albums I mentioned are OST Ngintip! !…Run, Budi, Run! and Apparently...I'm In Medicine / Love, or the Illusion of the Beginning Symptoms of It, the two albums are the work of SP. And in the end of September, the third Album of SP will be released under Yes No Wave. Anyway, Ababil give me the album two weeks ago, so I already listened to it. All the three SP’s albums were released on the internet, for free, and without any physical evidence, since 2006 until 2008. Ababil Ashari, a medical student, keep doing this work, alone, but what for?

Willing to play a cover song of Radiohead, with a physics genius that can play a piano, named Kevin Yapsir, Ababil and Kevin drive to made the first song for SP titled Green Apple Green instead. “During we create the song in the music room, the other members start to come, wondering the sounds came out from there.” and the line up for SP are Ababil Ashari (voc, guitar, programming), Kevin Yapsir (guitar, voc), Alfonsus Tanoto (bass, voc), Daniel Sastro (guitar), Alvin Lasmana (drum). Right after formed, Ababil and friends start willing to make an album, and they did, using a NEC Versa Laptop and webcam mic. Unlike the other bands, who make the album materials first then composed them into an album. Ababil made the general concept of the album first, and then make the songs. Even the song title was come first instead the song itself “I wrote the titles for album 2 first THEN write the song” said Ababil.

Shorthand Phonetics first lined up didn’t last long. The first album who bring up a fan fiction concept, released at 2006, considered as a succeed “Luckily, the Harry Potter’s song get into Wizard Rock’s audiences, so it’s already downloaded for 19.415 times” Ababil explained. After the first album, the line up were separated “After the released of the first album, it comes to an end! The rest members were study abroad”. Ababil itself continue his study at medical faculty of Unpad. Kevin Yapsir, the physics genius, even going further his study at MIT. Then, Ababil continue his musical experience under the name Shorthand Phonetics.

Actually, Shorthand Phonetics not just a musical profile of Ababil Ashari. Shorthand Phonetics is the journal of Ababil Ashari. Since the first album, SP always telling about a Japanese named Hanabishi Hideaki. The first album was about the story written by Hide about Harry Potter Ranma ½, etc (a fan-fiction made by Hide). The second was about Hide’s first year at medical school. The third was his second year. You can simply replace the name “Hide” with “Ababil”, because this is just the story of Ababil itself. Ababil said “What happens to me here in Indonesia happens to Hide in that parallel universe version of Japan".

You might think Ababil is kind of freak kid. Yeah, a medical student-bedroom musician-Japan’s anime manga freak-kind of double personality-English literary preference, you don’t find a kid with such a profile very often in the neighborhood, don’t you? But wait, English literary preference? Yeah, 75% of the YM conversation answered in English by Ababil. Firstly, I think Ababil just like to pretending to talk in English. But, nope, he is Cinta Laura kind of! Haha… Ababil ever stayed in Canada for two years, and after his comeback to Indonesia, his mother always push him to talk in English at home. “I actually speak Indonesian as a second language, because I speak English better than Indonesian, it's just that I grew up knowing English first Indonesian second”. Ouw, it’s not a pretentious thing, he is just kind of Cinta Laura “I actually talk like Cinta Laura kind of” he admit.

Back to Shorthand Phonetics, it clear now, that SP is a documentation effort by Ababil regarding his daily life, through Hide character. Each character he created in the world of SP, is based on real character in Ababil’s life. For instance, the character of Fujioka Tsubasa, who is oftenly being a central character beside Hide. Tsubasa is a girl whose Hide crushed on, and many songs telling about how Hide trying to get Tsubasa. And until the third album, Hide still couldn’t catch Tsubasa’s love and so did Ababil of course. The first track at third album, is about a depression feeling of Hide after Tsubasa’s rejection, and the rest tracks is still dominated by story about Tsubasa. Do not expecting too much, that the SP’s songs are story telling enough. Although, that is what Ababil try to deliver, but Ababil do that with his own way. Some songs are without vocal, but there is monumental story behind. Ababil confess that his songs is pretty much lyric based, commenting on non-vocal song, he said, the title of the song came first then the music follow.

Well, talking about SP’s music, before I talked with Ababil, I still confused, about SP’s musical direction. At the beginning of the interview, Ababil tell me that he play lo-fi indierock. I still confused, hard to see the red line between the songs, and some songs seem quite experimental. In the middle of interview, finally I can see the whole general concept, SP is a very personal project of Ababil Ashari. This is a representation of musical preferences of Ababil Ashari. Indierock is enough to describe it in a genre, because indierock is wide enough. And lo-fi? I think, much or less, Ababil use the lo-fi term as a justification of the technical quality of the record is not very clear, though. Instead I think is still a stand out for a solo work, from the song-writing, record, and release. “I maximizing the potential of my current equipment” Ababil explain. Somehow, Ababil claimed SP in the field of lo-fi music scene. “The general belief in the lo-fi scene is that a good song recorded crappily is still a good song, while I don’t agree with that 100% I think it's a bit true” said Ababil.

One more thing that is very catchy from SP is the long and sentenced song and album title. Look for the instance, from the third album, "21st of March 08: "The Ravenclaw Common Room is a IDM Discotheque Now!, or, Above the Stratosphere Is Where My Happiness Lies (Which Is to Say, "I Can Never Jump Up and Reach It")" the title for track 5. The album title is "Fire! (I Could Have Died and All I Could Think About Was My Charred Diary)". What happen to this long-sentenced title? “I'm trying to convey something that has only one meaning” Ababil said. Ababil don’t want the message is biased “I want the mood and message of the to be as clear as possible the way I wrote it.” he explains. Hard to recall, of course. Even Ababil himself call his songs as “Track 1, track 2, track 3” and “Album 1, album2, album3” on the interview.

By way of making Shorthand Phonetics this personal, what is Ababil try to achieve with SP? There is no excessive ambition for Ababil through SP. Working on SP is a personal happiness for him “If more people listen to me, so be it” he admit. Whether no one listening, is not a problem for Ababil, “I'm in this for my personal satisfaction, nothing else” he said. In the other hand, Ababil have expectation for his listener “Well, I want them to listen to the albums from start to finish at least once” he told. Instead, Ababil only left less space for the listener to interpret SP’s song freely. Unlike other bands who usually said make the listener free to interpret their songs, SP wasn’t lazy enough to make detail description and definition about the message and the mood of the songs.

Who knows, what would Ababil’s result with Shorthand Phonetics in the future? Not much peoples who want and pleased to share his personal journal with others, Ababil do. Although his journal is a conception of fiction musical documentary named Shorthand Phonetics. Ababil already prepare the end for SP is about after fifth album, where he’ll tell about his fourth year in medical school. After that Ababil will be a Co-Assistant in hospital, he’ll have less spare time because he must stand at hospital 24/7at worst. Being a medical doctor is his future in the real world, Shorthand Phonetics is a hobby. Well we’ll see how Ababil will kill Hide, haha…


*Trivia quiz with Ababil Ashari:

Describe Fujioka Tsubasa! what kind of girl is she?
- She is 150-160 cm tall, glasses, incredibly smart, incredibly neurotic, slightly depressed, braces, ex-video-gamer, opiniated, extremely shy, etc.

Okay, why Ranma can changing gender? Answer in medical explanation.
- Umm... Because Rumiko (author) has this double oedipal fantasy in which she wants to experience both sexes...this is reflected in her main characters the bi-gender Ranma and unisex Inu Yasha... It’s rather psychiatry . But it’s medical, right? Hahaha…

Time machine in Doraemon, it’s a parallel universe or what?
- The way time is demonstrated in Doraemon, is similar to Back to the Future, so yes...it is a parallel universe, in which they create. They disappear from their original universes constantly.

MP3 format and internet: doom for music industry, or the future?
- Doom for music INDUSTRY. In the future all music would be free, and artists must playing shows to success ha ha ha…


*PS: Shorthand Phonetics akan merilis album ketiga nya, melalui Yes No Wave pada 30 September 2008!
*Interview and Story by: Jay
*Photo from: Shorthand Phonetics doc.


Ha! Bulan September tahun 2008 ini, berarti tepat sudah tiga tahun Mellon Zine ada dan eksis (walaupun kadang kala suka setengah-setengah eksis-nya). Klise-nya, bakal saya bilang, tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk terus menulis dan menulis (dan proses lain selain mneulis tentunya), tapi sebaliknya, tiga tahun juga bukan waktu yang cukup lama dari kehadiran sebuah media alternatif ini. Hey, kalau kalian pikir saya menulis ini dalam rangka ulang tahun Mellon Zine, jangan salah sangka! Kami tidak pernah merayakan ulang tahun, karena tidak ada yang pernah memberi kami kado. Hahaha...

Sedikit kilas balik singkat, dulu saya (Jay) membuat fanzine ini dengan my bandmate, named Eko. We share the same passion in music, and willing to write about it. Maka jadilah kami membuat terbitan yang sangat lo-fi, diperbanyak dengan cara fotokopian, dan disebarkan di dalam kota. Lalu hadirlah teman-teman yang turut serta menggarap ini Fanzine; Jaka, Johan, Reno, Windy, so on. Haha… sampai akhirnya kita pernah mampu mencetak, hingga kover yang berwarna.

Tak terasa kalender sudah menuliskan angka 2008. Si Eko sudah punya pacar (Aihh…) dan sudah punya pekerjaan yang menyibukkannya, si Johan sedang sibuk srkipsi, si Jaka semakin pacaran mesum di kost-an,sambil memelihara kelinci yang diberi nama Tika dan si Reno sekarang menjaga distro sambil kuliah dan mencari cinta juga sentuhan wanita (sesekali kami masih nge-band, cuma nge-jam instrumentalia resah tidak tentu arah). Dari praktik social networking (bukan friendster, ataupun membobol privat foto friendster ;D), saya mengenal Ipung (known as Romanticpurple) yang bisa mengorganisir website, maka saya mulai putar haluan untuk berganti format ke dunia maya. Here it is you read my writing on your browser.

We’re not gonna stop right here. Memang tidak mudah untuk tetap menjalankan fanzine ini agar tetap ada. Tapi, ini adalah apa yang kami kerjakan. We’re supporting good music. We’re supporting local act. Selama diluar sana masih banyak musik-musik bagus yang bertebaran, selama masih banyak karya seni bagus yang terpinggirkan, kami akan tetap hadir, bagaimanapun caranya (mendadak patriotis-melankolis, haha). Shot our vein with your glorious music, easy art, moron movie, cheap photography, odd pictorial, weird artwork, freshen spit, sticky blood, expensive beer, special sperm, low-life story, mighty pornography, or hell-whatever. That’s gonna strengthen us!

Celebrate the three years spitting fanzine. For; Mellon the Zine! Yeah! Rise your hand and say yeahh!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ha! This September on 2008, it’s precisely, three years Mellon Zine have been exist (instead we are half-exist sometimes ;D). Cliché, I will say, three years not a quite short time to keep writing and writing (and other process beside writing of course), but also, three years is not quite a long time existence of this alternative media. Hey, if you think I write this down in the case of Mellon Zine’s birthday, don’t misunderstand! We never celebrate a birthday, because no one ever hand us a present. Hahaha…

A little bit flashback, me (Jay) made this fanzine with my bandmate, named Eko. We share the same passion in music, and willing to write about it. So we’ve done our first pressing that is very lo-fi, copied with copy-machine (Xerox) and distributed in the city. Then, came some fellas who join the party as the fanzine; Jaka, Johan, Reno, Windy, so on. Haha…. until, we ever printed the fanzine, with colored cover.

Somehow, the calendar has write down the number 2008. Eko already have a girlfriend (Ouchh…) and have a main job, that keep him busy, Johan is working on his final paper for his bachelor degree while flirting some chicks, Jaka is chronically dating his girl in his rented-room, pervert-ly, and keeping a pet (a rabbit) named Tika, and Reno is shopkeeping a shop while do a college and looking for lust and love (sometimes, we still make a jam in the studio, only some instrumentalist un-directed playing). From social networking practice (not friendster nor hacking private photos in friendster ;D) I know Ipung (known as Romanticpurple), who can organize a website, then I started to change the format into an internet-based magazine. Here it is you read my writing on your browser.

We’re not gonna stop right here. It is not easy to run the fanzine and keep it still exists. But, this is what we do. We’re supporting good music. We’re supporting local act. As long as there are many good music outside, as long as many artwork being forgotten, we will still be there (patriotic-melancholic, suddenly, haha). Shot our vein with your glorious music, easy art, moron movie, cheap photography, odd pictorial, weird artwork, freshen spit, sticky blood, expensive beer, special sperm, low-life story, mighty pornography, or hell-whatever. That’s gonna strengthen us!


Celebrate the three years spitting fanzine. For; Mellon the Zine! Yeah! Rise your hand and spit!

*Written and translated by: Jay
*Banner and illustration by: Jay
*Terimakasih untuk Romy dari Elz Zine, kamu terbukti benar tentang internet. ;)

Jakarta Rock Parade adalah event yang memupuk harapan besar bagi pecinta musik rock di tanah air, plus menjadi harapan besar bagi band-band indie untuk dapat diakui lebih luas dengan bisa tampil di event besar dan bersama band internasional. Event yang terselenggara pada tanggal 11 – 13 Juli 2008 bertempat di Tennis Indoor & Outdoor Senayan, Jakarta ini banyak mendapat sorotan karena menampilkan line up yang cenderung berani. Dikarenakan tidak di back-up oleh band mainstream jago-jago panggung kelas nasional, namun lebih memilih dikerumuni band – band indie jagoan dari komunitas. Penyelenggara memilih jargon “LET’S MAKE HISTORY” pada acara yang mereka klaim sebagai biggest rock event di Indonesia ini.


Ditambah lagi terobosan menarik yang dilakukan dengan menampilkan band-band klasik Indonesia untuk tampil kembali dalam format reuni. Tentu saja kesempatan seperti ini jarang diperkirakan dan disuguhkan oleh promotor-promotor musik lainnya. Fans-fans dan pecinta rock dari generasi 60an sampai generasi 2000an tentu saja kegirangan menyambut kabar gembira ini. Bagaimana tidak, Andy Tielman (The Tielman Brothers), Roxx, Gypsi & Gang Pegangsaan, RumahSakit, El Pamas, Flowers, Netral dan PAS band yang akan tampil pada formasi reuni pasti akan merangsang adrenalin pecinta musik rock yang mungkin sudah menjadi awam dengan musik jaman sekarang. Dan anak jaman sekarang bisa menantikan pahlawan-pahlawannya dari luar negeri, sebut saja Yeah Yeah Yeahs, Dismember, BMX Bandits, hingga Mono akan didatangkan ke Indonesia. Belum lagi line-up lokal jagoan macam Naif, Sore, Seringai, Burgerkill, Efek Rumah Kaca, The S.I.G.I.T, Polyester Embassy, Bangku Taman, The Milo, Koil, Pure Saturday hingga satu-satunya perwakilan Surabaya, Vox.

Harapan boleh digantung setinggi gedung bertingkat, tapi kenyataan selalu membangunkan dan menyeret kita ke hadapan fakta. Acara belum berlangsung, kehadiran Yeah Yeah Yeahs dinyatakan batal. Padahal beberapa materi promosi sudah mencantumkan headline Yeah Yeah Yeahs. Beberapa hari kemudian giliran BMX Bandits, Silly Fools dan The Parlotones yang diumumkan batal datang ke Indonesia. Tentu saja hal ini menurunkan gairah calon penonton yang harus merogoh dompetnya hingga 200-400ribu setiap harinya untuk menyaksikan acara. Sampai disini segala sesuatunya masih tampak “meyakinkan”, hingga tibalah hari H penyelenggaraan acara.

Sehari setelah hari pertama, kekecewaan langsung menyeruak di berbagai hati penonton dan pecianta musik rock tanah air. Berbagai media dan forum di internet menyoroti betapa banyak band yang tidak jadi tampil, dan betapa berantakannya penyelenggaraan acara. Kabarnya banyak band lokal yang tidak jadi tampil karena masalah pelunasan fee. Berbagai forum dan milis di internet banyak menyoroti hal ini. Joseph dari Vox yang jadi tampil pada hari ketiga menduga memang ada masalah pada pelunasan fee “Saya sendiri kurang tahu, karena baru datang beberapa jam sebelum perform, tapi kabar dari teman-teman Vox dan band-band lain memang begitu adanya (banyak band belum dibayar). Sayang sekali.” ujarnya. Dihadapkan pada isu ini, Arian 13 yang bandnya, Seringai, tidak jadi tampil menyatakan hal itu bukanlah isu. Ketika ditanyai kenapa Seringai tidak jadi tampil, Arian menjawab “Karena sepertinya setelah surat kontrak ditandatangani, pihak promotor tidak menginginkan Seringai bermain. Tidak ada goodwill dari mereka sampai ke hari H.” Vox cukup beruntung karena berhasil ”melunaskan” beberapa saat sebelum manggung, ”Karena tim manajemen kami akhirnya sukses ‘melunaskan’ beberapa saat sebelum kita manggung hehe. Lagipula agak kurang rock kalo sudah jauh-jauh datang ke jakarta, tidak jadi manggung dan tidak dibayar pula. Kalo rumah kita di blok m mungkin enak, tinggal naik trans jakarta udah bisa pulang.” kata Joseph lagi.

Kondisi seperti ini terus berlanjut hingga hari terakhir penyelenggaraan. Penyelenggara tidak kuasa menahan gelombang pembatalan artis, imbasnya, banyak penonton harap-harap cemas menanti band kesayangan mereka tanpa kepastian tampil atau tidak. Pada kondisi seperti ini, untungnya penyelenggara masih bisa berbaik hati dengan mengembalikan sebagian uang pembayaran tiket yang sudah dibayarkan pada penonton yang masuk. Tentu saja kondisi seperti ini menjadikan Jakarta Rock Parade sebagai event yang sepi dikunjungi penonton, karena ketidakjelasan acara. Mahalnya harga tiket menjadi salah satu kambing hitam pada isu sepinya penonton yang hadir. “Tiket menjadi mahal karena banyak pengisi acara yang cancel, jadi calon crowd sudah malas duluan.” kata Arian mengomentari harga tiket yang dirasa kemahalan. Apa memang penonton di Indonesia belum siap untuk event semacam ini? “Sangat siap sebenarnya. Orang indonesia sebenarnya lebih butuh festival rock daripada agresifitasnya tak tersalurkan. Yang ada nanti malah lempar-lempar di stadion, bakar-bakar pas demo dan bom-boman di tempat wisata. Cuma, siap atau tidak membayar 400 ribu perhari itu perkara lain lagi. Ini kan festival rock, bukan jazz.” ujar Joseph.


Beruntunglah bagi yang sempat menyaksikan penampilan Mono, Dismember, El Pamas dan “sedikit” band lainnya lagi. Efek Rumah Kaca juga menjadi salah satu band yang jadi tampil, walaupun tanpa check sound, “Kita satu-satunya band yang gak check sound jadi langsung main.. Terimakasih buat Iman "ZATPP" dan Adrian Adiutomo udah mau tampil bareng,di lagu "Jangan Bakar Buku” dan "Di Udara” kata pihak Efek Rumah Kaca. Penampilan band-band tadi mungkin bisa menjadi sedikit pelipur lara bagi penonton yang sudah hadir, juga bagi penyelenggara.

Sebenarnya apa yang salah pada Jakarta Rock Parade? Secara singkat, orang pasti akan mudah menuding penyelenggara kurang mampu menyelenggarakan acara sebesar ini. “Ah, memang promotor tidak serius saja membuat sebuah event.” ujar Arian mengemukakan pendapatnya. Beberapa pihak masih menyimpan sedikit salutation untuk penyelenggara karena “berhasil” menyelenggarakan sampai hari ke 3, dan keberaniannya mengusung konsep yang berbeda. Ketidakberadaan sponsor juga menjadi salah satu aspek inferior bagi penyelenggara. “Ya itu tadi, kalau tidak ada sponsor gede yang membackup masalah dana, terus band-bandnya mau dibayar pake apa. Ini kan bukan acara friends-rock (gratisan-komunitas-persahabatan)” kata Joseph. Sebenarnya memang kurang bijaksana ketika mengandalkan pendapatan tiket untuk menutup pengeluaran penyelenggaraan sebuah event.

Secara satir banyak pihak menyatakan penyelenggara sukses membuat sejarah (“LET’S MAKE HISTORY”) tapi pada konteks yang berkebalikan. Imbasnya memang beragam. Secara gamblang, mungkin promotor lain akan merasa ragu jika berencana menyelenggarakan konsep serupa di kemudian hari. Band luar negeri bisa jadi akan menganggap Indonesia bukan venue yang layak dikunjungi jauh-jauh. Band lokal menjadi ragu-ragu ketika ada konsep serupa di kemudian hari. Pihak sponsor bisa jadi enggan mengucurkan bantuan untuk acara serupa. Tapi, penikmat musik rock, dan pencinta musik yang menjadi head line di Jakarta Rock Parade kemarin tidak akan pernah surut gairah untuk menyaksikan band kesayangannya. Banyak orang merasa menyesal tidak bisa menyaksikan Mono secara langsung, yang memang banyak dilaporkan tampil menawan. Beribu-ribu orang pasti masih sangat kebelet menyaksikan Yeah Yeah Yeahs secara langsung. Kesempatan menyaksikan BMX Bandits akan masih menjadi kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh publik tanah air. Koil, Pure Saturday, The Milo, Rumah Sakit, Fable, Seringai, Efek Rumah Kaca, Naif, Sore, Lull, Lain, Tengkorak dan lainnya dalam satu panggung? Pasti akan menjadi sangat masif sekali bung! I’ll beg for that to be held in my town!

So, rock can’t die here. Rock tetap menjalar dalam darah orang Indonesia. Merantak dan menyebar dalam segala sub-sub nya dan terus berkembang biak disini. Terserah apa imbas dari acara ini. Bendera rock masih tetap berkibar di kemudian hari. Tomorrow must be better than today. Cheers!

Written by : Jay
From several sources 
Images taken from  : www.jakartarockparade.com and
http://wastedrockers.wordpress.com
credit respectfully goes for them.


*Postingan ini sengaja tidak di alih-bahasa kan ke bahasa Inggris.